Dari Rak Kayu ke Dunia Digital: Perpustakaan Desa Mangunharjo Buktikan Literasi Bisa Mengubah Segalanya
Meggy
30 Juni 2025 305 x Kabar Desa
Mangunharjo, Wonogiri — Siapa sangka, sebuah perpustakaan desa di lereng Wonogiri mampu menorehkan prestasi dan menjadi inspirasi? Perpustakaan Ki Hadjar Dewantara, yang berada di Desa Mangunharjo, Kecamatan Jatipurno, baru saja meraih Juara 3 dalam Lomba Perpustakaan Tingkat Kabupaten Wonogiri Tahun 2025.
Bukan sekadar piala atau piagam, pencapaian ini menjadi bukti nyata dari dedikasi, kolaborasi, dan semangat literasi yang menyala di desa kecil yang terus bergerak maju.
Rumah Kedua bagi Para Pencari Ilmu
Selama bertahun-tahun, Perpustakaan Ki Hadjar Dewantara telah menjadi pusat kegiatan belajar dan literasi. Dengan koleksi buku yang terus diperbarui, ruang baca yang nyaman, serta berbagai program inovatif—mulai dari bedah buku, pelatihan literasi digital, hingga pojok baca tematik—perpustakaan ini bukan hanya tempat menyimpan buku, tapi ruang hidup untuk tumbuh dan bertukar gagasan.
Pustakawan yang ramah dan sigap menjadi penggerak utama, sementara lingkungan perpustakaan yang hangat membuat siapa pun betah berlama-lama, dari anak-anak hingga orang tua.
Beradaptasi di Era Digital: Lahirnya MANGGALAKU
Tidak berhenti pada fasilitas fisik, perpustakaan ini juga menjawab tantangan zaman melalui perpustakaan digital MANGGALAKU (Mangunharjo Galeri Kawruh)—sebuah inovasi berbasis teknologi yang memungkinkan masyarakat mengakses ilmu kapan saja dan di mana saja.
Bayangkan: perpustakaan tanpa dinding, tanpa batasan waktu, dan tanpa kekhawatiran buku rusak atau hilang. MANGGALAKU menghadirkan akses tanpa batas ke pengetahuan, tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga multimedia interaktif yang memperkaya cara belajar generasi digital.
Lebih dari sekadar platform, MANGGALAKU menjadi ruang berbagi ide dan membangun komunitas pembelajar, sejalan dengan cita-cita menciptakan masyarakat yang cerdas, kritis, dan kreatif.
Menuju Masa Depan Literasi yang Lebih Gemilang
Prestasi ini bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk bergerak lebih maju. Kepala Perpustakaan Ki Hadjar Dewantara, Khoirul dan penggagas inovasi Novi, menegaskan bahwa perpustakaan desa akan terus bertransformasi mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai penjaga nilai-nilai literasi lokal.
"Kami ingin perpustakaan ini terus hidup, menjadi tempat di mana anak-anak belajar bermimpi, remaja menemukan arah, dan orang dewasa menemukan inspirasi," ujarnya.
Dengan dukungan dari Pemerintah Desa, Perpusnas RI, mahasiswa KKN, dan seluruh masyarakat, perpustakaan ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar urusan kota besar. Di desa pun, cahaya pengetahuan bisa bersinar terang.
Mari dukung Perpustakaan Ki Hadjar Dewantara dan MANGGALAKU
Karena dari sinilah, jendela dunia terbuka… dan perubahan dimulai.
(Meggy)

