MERAJUT KEMBALI FITRAH DUSUN

Meggy
10 April 2025 42 x Kabar Desa

Mentari pagi di tanggal satu Syawal menyapa lembut, menyentuh dedaunan hijau yang semalam tersiram embun. Aroma masakan khas Lebaran mulai menyeruak dari balik dinding bambu dan bata merah. Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar hari kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momentum sakral untuk kembali ke fitrah, ke kesucian diri, dan mempererat tali persaudaraan.

Suara takbir yang berkumandang sejak malam takbiran, kini berpadu dengan riuhnya anak-anak yang mengenakan baju baru, berlarian di jalan setapak yang dihiasi janur kuning. Bapak-bapak dengan sarung baru dan kemeja koko putih bergegas menuju masjid atau langgar untuk menunaikan Salat Id. Langkah mereka diiringi senandung shalawat yang khusyuk. Ibu-ibu dengan kebaya terbaik dan selendang batik anggun menenteng rantang berisi opor ayam, sambal goreng ati, dan ketupat yang mengepulkan aroma menggoda.

Setelah Salat Id usai, suasana khidmat berubah menjadi kehangatan silaturahmi. Satu per satu, warga saling mengunjungi, mengucapkan "Sugeng Riyadi" atau "Minal Aidin Wal Faidzin". Uluran tangan disertai senyum tulus menghapus segala ganjalan di hati. Anak-anak kecil dengan mata berbinar menyalami tangan-tangan yang lebih tua, berharap mendapatkan "salam tempel" – uang baru yang menjadi tradisi khas Lebaran.

Di setiap sudut desa, terlihat pemandangan yang sama keluarga berkumpul, menyantap hidangan Lebaran bersama di atas tikar pandan atau meja kayu sederhana. Canda tawa dan obrolan hangat mengalir, mengisahkan pengalaman selama Ramadan, harapan di hari yang fitri, dan kenangan indah masa lalu. Sesekali, lantunan gamelan Jawa terdengar sayup-sayup dari rumah tetangga, menambah syahdu suasana Lebaran di desa.

Tradisi "nyekar" atau berziarah ke makam leluhur juga menjadi bagian tak terpisahkan dari fitrah di desa. Setelah bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga, warga berbondong-bondong menuju pemakaman desa. Mereka membersihkan pusara, menaburkan bunga, dan memanjatkan doa untuk para pendahulu. Momen ini menjadi pengingat akan asal-usul dan pentingnya menghormati leluhur.

Menjelang sore, suasana desa tidak lantas mereda. Anak-anak masih asyik bermain petasan dan kembang api di lapangan terbuka. Para remaja dan pemuda berkumpul, saling bertukar cerita dan rencana. Sementara itu, para orang tua duduk santai di beranda rumah, menikmati kopi atau teh hangat sambil berbincang dengan tetangga.

Fitrah di desa Mangunharjo bukan hanya tentang kembali ke kesucian diri, tetapi juga tentang merajut kembali kebersamaan yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan sehari-hari. Di tengah kesederhanaan dan kehangatan suasana pedesaan, nilai-nilai luhur seperti gotong royong, saling menghormati, dan kekeluargaan terasa begitu kental. Hari Raya Idul Fitri di desa menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan dan kebersamaan. Aroma opor ayam, suara takbir, senyum tulus, dan hangatnya silaturahmi menjadi bagian tak terlupakan dari fitrah di desa Mangunharjo.


Meggy

Kades Desaku wonogiri

Berita Terkini

Rakor & Pertemuan Rutin RT/RW..

Sal Meggy
Kabar Desa