Mentari pagi menyapa lembut melalui celah jendela bengkel sederhana di Mangunharjo. Debu kayu halus menari-nari dalam sinarnya, menciptakan atmosfer hangat dan akrab. Di tengah kesibukan pagi yang mulai terasa, Pak Mariyadi, dengan kemeja lengan panjang yang sudah akrab dengan serbuk kayu, tampak tekun mengamati sepotong kayu jati dan mahoni di atas meja kerjanya.
Pak Mariyadi mempunyai 5 karyawan jam operasiol 07.00-16.00 setiap hari, Libur operasioal di hari minggu. Setiap hari nya menghasilkan 100 unit barang
Pak Mariyadi menceritakan pengalamannya 10 tahun
berkecimpung dengan dunia kayu. Tangannya yang kasar namun terampil membelai
permukaan kayu, seolah merasakan setiap serat dan alurnya. Matanya yang awas
menangkap potensi tersembunyi dalam setiap guratan, membayangkan bentuk indah
apa yang akan lahir dari bahan mentah ini.
Suara serutan kayu yang khas beradu dengan bunyi ketukan
palu yang ritmis, menciptakan melodi tersendiri di dalam bengkel. Alat-alat
ukir yang beragam, dari yang tampak kuno hingga yang lebih modern, tersusun
rapi di dinding, menjadi saksi bisu berbagai karya yang telah diciptakan. Aroma
khas kayu jati dan mahoni yang manis dan sedikit pedas bercampur dengan bau lem
kayu, menciptakan identitas unik ruang kerja Pak Mariyadi.
Hari ini, Pak Mariyadi sedang mengerjakan pesanan sebuah
pemotong singkong, pasah bawang merah untuk seorang pelanggan di kota. Pak Mariyadi menjual barang dengan cara Online Shop,
Setiap detail diperhatikannya dengan seksama. Baginya, kayu bukan sekadar bahan
baku, melainkan sebuah medium untuk mengekspresikan seni dan keindahan.
"Kayu
itu punya jiwa," ujarnya suatu kali kepada seorang pemuda yang magang di
bengkelnya. "Kita harus mendengarkannya, mengikuti alurnya, dan
menghidupkannya kembali dalam bentuk yang baru."
Proses
pengerjaan sebuah karya kayu bagi Pak Mariyadi bukanlah sekadar rutinitas,
melainkan sebuah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan cinta.
Setiap goresan pahat adalah ungkapan rasa, setiap sambungan adalah wujud
kekuatan dan keharmonisan. Ia tidak hanya membuat perabot, tetapi juga
mewariskan nilai-nilai keindahan dan keahlian tradisional kepada generasi
berikutnya.
Ketika
matahari mulai meninggi, pemotong keripik, pasah bawang merah itu perlahan
mulai menunjukkan wujudnya. Ukiran-ukiran yang tadinya hanya berupa garis-garis
samar kini menjelma menjadi detail yang memukau. Pak Mariyadi mengamati
karyanya dengan tatapan puas, sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya. Baginya,
kepuasan terbesar bukanlah sekadar upah yang diterima, tetapi melihat sebuah
batang kayu mentah bertransformasi menjadi sebuah karya seni yang akan
diwariskan dari generasi ke generasi.
Di Mangunharjo, di tengah kesederhanaan bengkelnya, Pak Mariyadi terus mengukir mimpi dan menghidupkan kayu. Setiap karyanya adalah cerminan dari dedikasi, keahlian, dan cintanya pada kayu, sebuah narasi bisu yang akan terus bergema dalam setiap serat dan ukirannya.

